Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh....
Ada seorang pria yang tak mungkin menyakiti hati anaknya dialah AYAH. Yang perjuangan dan pengorbanannya tiada batas. Nasihatnya adalah cara ia menjaga. Marahnya adalah tanda ia melindungi. Satu-satunya pria di dunia yang cintanya sejati pada anak-anak perempuannya.
Ayahku bernama Muhri ia adalah anak pertama dari keempat bersaudara nya. Tidak ada panggilan spesial dari nama ayahku semua orang mengenal dan memanggilnya dengan sebutan Muhri. Ia memiliki bentuk wajah yang sedikit oval, hidung yang tidak begitu mancung, matanya yang terlihat sedikit sipit, bibir yang sedikit tebal, serta memiliki kulit yang berwarna sedikit hitam tidak lagi seperti sawo matang.
Dalam kartu keluarga sudah tertera bahwa ia lahir pada tanggal 9 Januari 1981. Ia di lahirkan di sebuah desa yang mayoritas penduduk desa tersebut suku dayak yaitu desa Sukaramai tetapi, desa tersebut sekarang sudah berganti nama entah apa? Aku pun belum mengetahui secara pasti. Mengetahui sekarang sudah bulan Desember dan tentu saja bulan yang akan datang adalah bulan di mana bertambahnya usia ayahku. Yaa... Ayahku sebentar lagi akan bertambah umur tanpa terasa semua begitu cepat berlalu dan umur ayahku juga sudah bisa dikatakan memasuki usia tua.
Kenangan itu, semua hal yang pernah terjadi dan semua hal yang pernah ayahku alami tentu saja aku masih mengingatnya.
Pada saat itu, ketika aku ingin menuntut ilmu di salah satu pesantren yang letaknya memang sangat jauh jika kita tempuh menggunakan transportasi laut yaitu kapal maka membutuhkan waktu sekitar 2 hari 3 malam atau sebaliknya. Dan jika kita tempuh menggunakan transportasi udara yaitu pesawat hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih dan itu semua baru kita lalui ke kota besarnya saja yaitu Surabaya. Dari Surabaya akan kita tempuh lagi perjalanan menuju pondok pesantren yang aku inginkan. Dan itu juga membutuhkan waktu yang lama.
Ketika itu, dengan yakin aku mau menuntut ilmu di pondok pesantren tersebut yang lebih tepatnya di Pulau Madura, Kabupaten Pamekasan, Desa Bettet dan nama pondok pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet Pamekasan. Aku diantar oleh ayahku tidak dengan ibuku karena ibuku tidak ingin melihatku nanti ketika sudah di pesantren meminta pulang. Dengan menggunakan transportasi kapal pergilah aku bersama ayahku dan sungguh tidak enak saat berasa dalam kapal tersebut karena minimnya tempat untuk tidur dan sebagainya. Ayahku sangat memperhatikan ku ia rela tidak tidur agar aku bisa tidur, ia rela tidur beralaskan seadanya demi aku bisa tidur dengan nyenyak. Segala hal ia lakukan agar aku tetap merasakan kenyamanan dalam kapal tersebut. Dari semua hal yang ia lakukan aku merasa sangat tersentuh melihat ayahku yang begitu memperhatikan diriku. Setelah melakukan perjalanan dengan jarak tempuh yang begitu jauh dan juga memakan waktu yang sangat lama tanpa terasa aku pun sudah sampai di kota Surabaya.
Sesampainya di kota Surabaya kami melakukan istirahat sejenak di rumah sepupu ayahku dan keesokan harinya kami kembali melakukan perjalanan menuju pondok pesantrenku. Ketika itu, pada saat aku sampai di pesantren dan ayahku ingin meninggalkan ku aku merasa begitu sedih dan ternyata ayahku juga merasakan hal yang sama justru ia lebih bersedih dan merasa sangat berat hati ketika ingin meninggalkan ku di pesantren. Tetapi, ia tutupi semua kesedihan nya dengan tawa dan nasehat-nasehat yang ia sampaikan kepadaku.
Ia memang sosok pria yang tidak banyak berbicara dan bisa dikatakan sangat cuek tetapi, dibalik itu semua tersimpan banyak cinta dan kasih sayang untuk diriku dan keluarga kecilku. Saat berada di pesantren aku sering menghubungi nya dan menghubungi ibuku melalui telepon dan setiap aku menelpon untuk memberi kabar ia selalu memberiku dua pertanyaan yaitu "Nak, bagaimana apakah sudah betah di sana? Dan apakah uang jajan mu masih ada?" jika aku menjawab "tidak betah dan menjawab bahwa uang jajanku sudah tinggal sedikit" ia dengan sigap berkata "nanti bapak transfer lagi uang jajan mu di sana nak yang terping kamu betah di sana" dan memang terbukti tidak lama dari aku menghubungi ia, uang jajanku pun langsung di transfer. Padahal aku tau di luar sana ia sangat sulit mencari sebuah uang. Aku tahu bahwa ia rela bangun pagi dan pulang malam tanpa keluhan sedikit pun tanpa berfikir lelah sedikit pun. Itu semua ia lakukan demi diriku dan keluarga kecilku agar selalu bahagia dan merasa cukup tidak kekurangan sedikit pun.
Aku juga masih ingat ketika ibuku bercerita mengenai ayahku yang pada saat itu melakukan makan malam bersama tanpa diriku karena aku masih berada di pesantren. Ketika itu ibuku memasak lauk kembaran cumi-cumi yaitu sotong yang tidak luput itu adalah lauk kesukaan ku. Saat bersama berlangsung ayahku terdiam dan berkata "Anakku makan apa ya di pesantren? Apa makan enak seperti diriku? Ini kan makanan kesukaan dia". Tentu saja ibuku juga merasa sedih tetapi, berusaha tegar agar ayahku tidak merasakan sedih yang berkepanjangan. Mendengar cerita dari ibuku aku langsung menangis merasa sangat sedih dan berfikir sebegitu sayangnya ayahku terhadapku. Akan tetapi, jika berada di hadapanku ia sangat cuek dan bahkan aku merasa bahwa ia adalah ayah yang tidak romantis dengan anaknya. Dan jika terjadi apa-apa ia selalu bersikap tegar tidak menimbulkan rasa sedih, cemas dan sebagainya. Namun, itu semua adalah drama saja dibalik itu semua tersimpan rasa terpuruk dan rase sedih yang mendalam.
Berbagai keterpurukan yang ayahku alami salah satunya pada saat aku masih menduduki sekolah dasar. Ayahku pernah mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat aku tidak mengrtahui pasti apa alasan ayahku sehingga ingin menjadi seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan usaha tersebut ia lakukan selama dua kali. Jerih payah dan usaha yang ia lakukan pada waktu itu, tetapi hasilnya keberuntungan tidak berpihak kepada ayahku dan itu tidak membuat ayahku berputus asa. Aku sendiri salut kepadanya ia mampu menutupi semua kesedihan nya dan berusaha untuk selalu bangkit. Untuk yang kedua kalinya ayahku kembali mencalonkan diri menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat namun, untuk kedua kalinya juga keberuntungan kembali tidak berpihak kepada ayahku. Aku sendiri merasa sangat sedih tetapi ayahku selalu berusaha untuk tegar dan terlihat begitu ceria padahal aku tahu bahwa ia merasa sangat kecewa dan bersedih.
Dengan selalu berdoa kepada Allah dan memang mungkin itu bukanlah jalan yang terbaik untuk ayahku. Allah pasti sudah menyiapkan jalan rezeki yang terbaik untuk ayahku. Begitu banyak lika liku kehidupan yang ayahku alami hingga akhirnya ayahku memutuskan bekerja sebagai supir mobil truk dari yang awalnya bekerja menjadi anak buah orang lain, hingga membuka proyek sendiri dan hingga akhirnya mempunyai mobil truk sendiri itu semua ayahku alami jatuh dan akhirnya bangkit kembali dan Alhamdulillah pekerjaan ayahku yang berprofesi sebagai supir truk tetap berlangsung hingga sekarang dan aku sangat merasa cukup tidak mengalami kekurangan sedikit pun. Itu semua merupakan jerih payah yang ayahku lakukan demi diriku.
Aku sangat menyayangi nya lebih dari apapun dan kasih sayang, cinta dan perhatian yang ia berikan kepada ku begitu berarti dalam hidupku tanpanya mungkin aku tidak akan bisa merasakan sekolah dengan selayaknya seperti anak-anak pada umumnya dan tanpanya juga mungkin aku tidak akan pernah merasakan bagaimana berada di bangku perkuliahan dan menjadi seorang mahasiswi. Ia merupakan sosok pahlawan nyata yang ada dalam kehidupan tidak seperti pahlawan yang di ceritakan di film-film yang mengandung unsur fiksi belaka. Semua perjuangan dan hal yang ia lakukan tidak dapat aku ceritakan sepenuhnya karena begitu banyak pengorbanan yang ia lakukan untuk ku dan juga keluarga kecilku agar aku selalu merasa bahagia.
Ia juga selalu mengalah dalam segala hal contohnya ketika akan menyambut hari raya ia rela tidak memakai pakaian yang baru dan lebih memilih memakai pakaian yang seadanya hanya demi aku dan keluarga kecilku dapat memakai pakaian yang baru. Jangankan dari hal sebesar itu dari hal makanan saja ia rela makan tidak enak demi aku dan keluarga kecilku bisa makan makanan yang enak. Sungguh mulia engkau pahlawan hidupku. Aku sangat menyayangi mu ayah dan begitu menghormati mu. Aku selalu berdoa semoga Allah selalu melindungi mu dan keberuntungan selalu berpihak kepadamu.
Aku juga sangat salut terhadap ayahku. Ya... Dialah memang sosok pria yang sangat sejati. Ayah yang tak pernah mengenal lelah dan tak pernah mengenal panas dan hujan hanya untuk melihat sang buah hatinya tersenyum. Pengorbanan yang telah ia lakukan tentu saja tidak akan pernah bisa terbalaskan.
Sekian, terimakasih
Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh...





